Demo: Anti HIV Aids (seks bebas) vs Pembagian Kondom

Foto ini merupakan kegiata aksi aktivis HTI Soloraya bersama elemen-elemen umat Islam Surakarta dan para pelajar dalam aksi Tolak Seks Bebas dibalik bagi-bagi Kondom yang terjadi di Solo. Aksi damai tersebut diselenggarakan oleh Forum Umat Islam-Surakarta pada Jum’at, 7 Desember 2007 jam : 13.30 s/d 15.00, dari Kota barat s/d Gladag.Yang mana pada hari ini juga diadakan aksi yang sama di Kal Sel dan di Yogyakarta.

Isu cros subtantifnya “Tolak seks bebas dibalik bagi-bagi Kondom” terkait pembagian kondom oleh LSM komprador di berbagai tempat fasilitas umum. Hal itu merupakan respon alamiah dari aksi alamiah pula yang dilakukan oleh komparador maupun pengusaha “kondom” dalam usahanya mempertahankan hidup dengan visi dan misinya,  yang pastinya juga bukan pro seks bebas. Ketika semua berbasik pada respon alamiah yang otomatis niscaya   menjadikan kedua pihak benar, lalu apa masalahnya??

Kita harus menilik sejarah untuk menemukan keterkaitan (jika ada) dan mencoba melacak permasalahan yang sebenarnya. Normatifitas anti seks bebas di Indonesia kususnya Islam telah dimulai sejak abad ke VI. Aktifis “kondom” dimulai sekitar abat XX sebagai program keluarga berencana, lalu abad XXI sebagai respon seks bebas yang selama ini tidak aman. Sementara seks bebas, prostitusi ataupun pelacuran telah dimulai tentu jauh sebelum abad ke VI atau bahkan abad sebelum Masehi terlebih tahun Hijriyah. Jadi kedua kelompok itu sama sekali tidak saling kontradiksi sebenarnya. Yang menjadi masalah tinggal kenapa sampai terjadi seks bebas. Harusnya ada penekanan yang lebih terfokus pada usaha mencari solusi menghilangkan seks bebas. Seks bebas merupakan masalah yang sangat luas dan komplek, sehingga kami perlu membatasi pada dunia prostitusi atau pelacuran.

Minimal ada 3 fariabel kenapa terlahir kegiatan prostitusi :

1. Rendahnya moral dan keagamaan

2. Kurangnya pendidikan ketrampilan

3. Keterpaksaan karena alasan ekonomis

Lalu siapa yang bertugas mengawal ketiga faktot tersebut. Di wilayah moral dan keagamaan secara kelembagaan telah ditunjuk banyak pesantren yang telah diberi bantuan dana yang cukup melalui DEPAG; kurang lebih pesantren besar  35juta/bula, sedang 25juta/bulan, dan kecil 15juta/bulan, di luar bantuan asing baik melalui lembaga pemerintah atau swasta. Namun apakah lembaga lembaga pesantren atau dakwah telah memiliki program dan mencapai sasaran (sektor riil) tentu penulis tidak memiliki data yang autentik.

Dalam wilayah pendidikan ketrampilan telah banyak program pendidikan gratis atau apapun istilahnya sebagai usaha menunjang pendidikan nasional. Masalah apakah pendidikan di Indonesia telah menjadi pendidikan yang mencerdaskan atau pendidikan pembodohan tentu ini masih menjadi kegelisahan dan diskusi berbagai pihak untuk perbaikan.

Sementara faktor yang ketiga tentang pendampingan masarakat terkait dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan apakah telah ada yang mengawal??? (tentu yang tidak melalui bank atau lembaga keuangan yang dalam sejarah perbankan selalu mengambil keuntungan, meski hal itu juga tidak dapat di salahkan karena berbasik pada situasi alamiah sebagai lembaga komersial)

Di sisi lain namun juga terkait meski tidak langsung, komparador maupun pengusaha kondom tidak memiliki andil menjadi penyebab lahirnya seks bebas, jika ditinjau dari perspektif ini. Sebab sebagaimana lebaga kesehatan komersil lainnya, mereka hanya melihat suatu masalah atau penyakit lalu menciptakan obat atau alat dan di jual. Sehingga dalam usaha menghapus seks bebas apakah mereka menjadi penyebab, tentu merupakan penilaian yang akan tidak konsis dan justru menjauhkan dan mengalihkan fokus pada masalah yang sebenarnya. Dan dengan sendirinya akan menjadikannya masalah baru daripada menjadikan alat antara untuk menuju penyelesaian masalah yang jika kita merunut sejarah dan penyebabnya memang tidak mudah. Meski demikian kita harus tetap optimis sejauh kita masih mau melakukan langkah langkan yang progresif dan yang paling penting adalah menyentuh sektor riil dan mikro, dengan mempertimbangkan makro dan moral movement juga merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • GET YOUR ALERTPAY

    Anda Ingin Punya Media Transaksi On Line Daftar Klik di sini 100% Free

  • TRANSLATE:YOUR>ARTICLE

  • WIB-TGL,&VODPOD

  • LIVE TRAFFIC FEED

  • RSS KURS LENGKAP

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • BOX FILE SHARING

  • TWITTER

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • CARI:LOKER

  • Lowongan Kerja Terbaru
  • EUROEXCHANGERATE

  • KLIKTERTINGGI

    • Tak ada
  • BLOG STATS

    • 34,589 hits
  • PENGARANG

  • TOP RATED

  • SITES INFO